Kata “yoga” berasal dari bahasa sansekerta yang berarti
untuk mempersatukan atau untuk menyelaraskan. Yoga merupakan suatu sarana untuk
mencapai suatu tingkat di mana aktivitas tubuh, pikiran dan jiwa berfungsi
bersama secara harmonis. Yoga juga dijelaskan sebagai suatu sistem yang
tujuannya adalah untuk membantu orang mencapai potensi mereka yang sepenuhnya
melalui peningkatan kesadaran.
Yoga sering dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai suatu
sistem yoga memilki banyak cabang. Masing-masing dengan fokus, seperangkat
peraturan, dan etikanya sendiri. Disiplin ilmu yang dimaksud meliputi suatu
disiplin psikologis, spiritual, dan fisilogis dan telah menjadi satu bagian
yang melengkapi kebudayaan India beribu-ribu tahun yang lalu ini.
Para ahli yoga masa lampau mengembangkan sistem yoga karena
mereka percaya bahwa dengan melatih tubuh dan pernafasan, mereka bisa menguasai
sifat alami pikiran, emosi, dan kesejaterahan mereka secara umum.yoga
berkonsentrasi bada cara-cara yang berbeda untuk mencapai perpaduan antara jiwa
individu dengan dengan sifat kodrsti yang dimiliki setiap manusia yaitu sebuah
poensi diri.
Apapun keadaannya manusia memiliki kemampuan potensial yang
tersembunyi. Yoga memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi potensi tersebut.
Dengan harapan yoga mampu memperbaiki sudut pandang seseorang terhadap dirinya
sendiri. Hal inilah yang kemudian dicoba oleh salah seorang orangtua yang anak
remajanya menyadang autis yang mengalami keterbatasan, sehingga sulit untuk
beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Remaja autis
adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai kekhasan tersendiri. Perkembangan menunjukkan bahwa jumlah
penderita autisme meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1997 penderita autis 1:500, kemudian menjadi 1:150 pada 2000. Para ahli
memperkirakan pada 2010 penderita autis akan mencapai 60% dari keseluruhan
populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autis terdapat pada anak laki-laki. Bila dilihat per negara, di Amerika
perbandingan perbandingan anak autis dan anak normal adalah 1:150 anak,
sedangkan di Inggris pebandingannya adalah 1: 100 anak.
Istilah autisme berasal dari kata “autos” yang berarti diri sendiri dan
“isme” yang berarti aliran. Sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham yang
tertarik hanya pada dunianya sendiri. Autistik adalah suatu gangguan
perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan
aktivitas imajinasi. Autis
merupakan kelainan perilaku di mana penderita hanya tertarik pada aktivitas
mentalnya sendiri (seperti melamun atau berkhayal).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengalami keautisan di
antaranya yaitu faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis antara
lain adalah faktor genetik yang berupa pewarisan gen sifat orang tua pada gen
anak, gangguan pertumbuhan sel otak pada janin akibat virus (Rubella, Toxo,
Herpes) dan jamur,
nutrisi yang buruk, pendarahan, keracunan makanan pada masa kehamilan yang
dapat menghambat perkembangan sel otak sehingga menyebabkan fungsi otak bayi
yang dikandung mengalami gangguan terutama fungsi komunikasi, pemahaman dan
interaksi.
Faktor biologis lain dapat berupa gangguan pencernaan pada anak, hal ini
terbukti bahwa dari 60% penyandang autis mempunyai sistem pencernaan yang
kurang sempurna terutama bagi makanan, seperti susu (casein) dan tepung terigu (gluko)
yang tidak dicerna dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua
berubah menjadi asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai
pendek asam amino yang seharusnya dibuang melalui urin, ternyata diserap
kembali oleh tubuh, masuk ke dalam aliran darah, menuju ke otak dan diubah oleh
reseptor opioid menjadi morphin
yaitu casomorphin dan gladorphin yang mengefek merusak sel-sel
otak dan membuat fungsi otak terganggu.
Faktor psikologis yang dapat menyebabkan seorang remaja yang memiliki
potensi keautisan menjadi autis adalah media elektronik visual seperti
televisi, komputer, dan playing station yang biasa menjadi pilihan orang tua untuk
memberikan hiburan kepada anaknya juga dapat menjadi penyebab autisme. Ini
terjadi karena interaksi antara remaja dan orang tua semakin berkurang demikian
pula interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya sekolah yang lebih awal dapat
meningkatkan dan makin menonjolkan potensi autistik pada anak. Ini karena
sekolah lebih awal diduga dapat membuat anak mengalami shock akibat perubahan lingkungan yang mungkin dirasa kurang cocok
dan terasa asing, padahal pada masa-masa awal pertumbuhan anak, dan peran orang
tua serta lingkungan keluarga harus lebih dioptimalkan.
Sedangkan menurut Maurice secara klinis diangnosis autisme tampak adanya
empat gejala seperti. Pertama, kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional. Kedua, Kurangnya komunikatif timbal balik.
Ketiga, minat yang terbatas disertai
dengan gerakan berulang-ulang tanpa
tujuan. Keempat,respon
sensorik yang menyimpang.
Terdapat beberapa hal yang
dibutuh orang-orang autis untuk mengetahui keadaanya sebagai individu
berpotensi. Tiga hal yang diberikan yoga terhadap kebutuhan orang-orang autis.
Pertama, kesehatan dan kebahagian
merupan satu kesatuan. Kondisi kebahagian sangat mempengaruhi kondisi urat-urat
saraf, kelenjar-klenjar dan organ vital yang memperlihatkan sesehat apa
penampilan dan perasaan seseorang. Dengan latihan yoga dapat menguranngi
penumpukan ketegangan yang berlebihan dalam dirinya.
Kedua, peningkatan kesadaran
tubuh. Yoga merupakan sarana untuk lebih mengenal keadaan tubuh anda. Proses
pembelajaran mengenai cara menolong tubuh agar berfungsi secara sehat dapat meningkatkan
ketenanganpikiran dan kestabilan emosi. Dalam hal kestabilan emosi, orang autis
belum memiliki kesaradaran untuk menstabilkan emosi. oleh raena itu yoga
menawarkan panduan untuk menyempurnakan berbagai perubahan fisik, emosi, mental
dan rohani sehingga mebawa tubuh dalam keseimbangan dan kesehatan.
Ketiga, yoga sebagai pelepasan
dan pencegahan stress. Terkadang ritme kehidupan tidaklah sejalan dengan
keinginan. Penuh dengan tekanan dan kompetisi. Stress sebenaranya suatu keadaan
di mana seseorang tidak mampu mengatasi gangguan pernafasan yang tidak
terartur. Pernafasan sangatlah berhubungan erat dengan emosi dan keadaan
pikiran. Pernafasan di dalam yoga adalah sebagai penghilangan stress melalui
relaksasi. Hal inilah yang sangat dibutuhkan oleh orang autis yang dalam
keadaan psikologisnya mengalami shock.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar