Selasa, 20 September 2011

YOGA UNTUK REMAJA AUTIS



Kata “yoga” berasal dari bahasa sansekerta yang berarti untuk mempersatukan atau untuk menyelaraskan. Yoga merupakan suatu sarana untuk mencapai suatu tingkat di mana aktivitas tubuh, pikiran dan jiwa berfungsi bersama secara harmonis. Yoga juga dijelaskan sebagai suatu sistem yang tujuannya adalah untuk membantu orang mencapai potensi mereka yang sepenuhnya melalui peningkatan kesadaran.
Yoga sering dianggap sebagai ilmu pengetahuan. Sebagai suatu sistem yoga memilki banyak cabang. Masing-masing dengan fokus, seperangkat peraturan, dan etikanya sendiri. Disiplin ilmu yang dimaksud meliputi suatu disiplin psikologis, spiritual, dan fisilogis dan telah menjadi satu bagian yang melengkapi kebudayaan India beribu-ribu tahun yang lalu ini.
Para ahli yoga masa lampau mengembangkan sistem yoga karena mereka percaya bahwa dengan melatih tubuh dan pernafasan, mereka bisa menguasai sifat alami pikiran, emosi, dan kesejaterahan mereka secara umum.yoga berkonsentrasi bada cara-cara yang berbeda untuk mencapai perpaduan antara jiwa individu dengan dengan sifat kodrsti yang dimiliki setiap manusia yaitu sebuah poensi diri.
Apapun keadaannya manusia memiliki kemampuan potensial yang tersembunyi. Yoga memiliki kemampuan untuk mengeksplorasi potensi tersebut. Dengan harapan yoga mampu memperbaiki sudut pandang seseorang terhadap dirinya sendiri. Hal inilah yang kemudian dicoba oleh salah seorang orangtua yang anak remajanya menyadang autis yang mengalami keterbatasan, sehingga sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.
Remaja autis adalah bagian dari masyarakat yang mempunyai kekhasan tersendiri. Perkembangan menunjukkan bahwa jumlah penderita autisme meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 1997 penderita autis 1:500, kemudian menjadi 1:150 pada 2000. Para ahli memperkirakan pada 2010 penderita autis akan mencapai 60% dari keseluruhan populasi di dunia. Sekitar 80%, gejala autis terdapat pada anak laki-laki. Bila dilihat per negara, di Amerika perbandingan perbandingan anak autis dan anak normal adalah 1:150 anak, sedangkan di Inggris pebandingannya adalah 1: 100 anak.
Istilah autisme berasal dari kata “autos” yang berarti diri sendiri dan “isme” yang berarti aliran. Sehingga dapat diartikan sebagai suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Autistik adalah suatu gangguan perkembangan yang kompleks menyangkut komunikasi, interaksi sosial, dan aktivitas imajinasi. Autis merupakan kelainan perilaku di mana penderita hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri (seperti melamun atau berkhayal).
Ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang dapat mengalami keautisan di antaranya yaitu faktor biologis dan faktor psikologis. Faktor biologis antara lain adalah faktor genetik yang berupa pewarisan gen sifat orang tua pada gen anak, gangguan pertumbuhan sel otak pada janin akibat virus (Rubella, Toxo, Herpes) dan jamur, nutrisi yang buruk, pendarahan, keracunan makanan pada masa kehamilan yang dapat menghambat perkembangan sel otak sehingga menyebabkan fungsi otak bayi yang dikandung mengalami gangguan terutama fungsi komunikasi, pemahaman dan interaksi.
Faktor biologis lain dapat berupa gangguan pencernaan pada anak, hal ini terbukti bahwa dari 60% penyandang autis mempunyai sistem pencernaan yang kurang sempurna terutama bagi makanan, seperti susu (casein) dan tepung terigu (gluko) yang tidak dicerna dengan sempurna. Protein dari kedua makanan ini tidak semua berubah menjadi asam amino tapi juga menjadi peptida, suatu bentuk rantai pendek asam amino yang seharusnya dibuang melalui urin, ternyata diserap kembali oleh tubuh, masuk ke dalam aliran darah, menuju ke otak dan diubah oleh reseptor opioid menjadi morphin yaitu casomorphin dan gladorphin yang mengefek merusak sel-sel otak dan membuat fungsi otak terganggu.
Faktor psikologis yang dapat menyebabkan seorang remaja yang memiliki potensi keautisan menjadi autis adalah media elektronik visual seperti televisi, komputer, dan playing station  yang biasa menjadi pilihan orang tua untuk memberikan hiburan kepada anaknya juga dapat menjadi penyebab autisme. Ini terjadi karena interaksi antara remaja dan orang tua semakin berkurang demikian pula interaksi dengan lingkungannya. Selanjutnya sekolah yang lebih awal dapat meningkatkan dan makin menonjolkan potensi autistik pada anak. Ini karena sekolah lebih awal diduga dapat membuat anak mengalami shock akibat perubahan lingkungan yang mungkin dirasa kurang cocok dan terasa asing, padahal pada masa-masa awal pertumbuhan anak, dan peran orang tua serta lingkungan keluarga harus lebih dioptimalkan.
Sedangkan menurut Maurice secara klinis diangnosis autisme tampak adanya empat gejala seperti. Pertama, kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional. Kedua, Kurangnya komunikatif timbal balik. Ketiga, minat yang terbatas disertai dengan gerakan  berulang-ulang tanpa tujuan. Keempat,respon sensorik yang menyimpang.
Terdapat beberapa hal yang dibutuh orang-orang autis untuk mengetahui keadaanya sebagai individu berpotensi. Tiga hal yang diberikan yoga terhadap kebutuhan orang-orang autis. Pertama,  kesehatan dan kebahagian merupan satu kesatuan. Kondisi kebahagian sangat mempengaruhi kondisi urat-urat saraf, kelenjar-klenjar dan organ vital yang memperlihatkan sesehat apa penampilan dan perasaan seseorang. Dengan latihan yoga dapat menguranngi penumpukan ketegangan yang berlebihan dalam dirinya.
Kedua, peningkatan kesadaran tubuh. Yoga merupakan sarana untuk lebih mengenal keadaan tubuh anda. Proses pembelajaran mengenai cara menolong tubuh agar berfungsi secara sehat dapat meningkatkan ketenanganpikiran dan kestabilan emosi. Dalam hal kestabilan emosi, orang autis belum memiliki kesaradaran untuk menstabilkan emosi. oleh raena itu yoga menawarkan panduan untuk menyempurnakan berbagai perubahan fisik, emosi, mental dan rohani sehingga mebawa tubuh dalam keseimbangan dan kesehatan.
Ketiga, yoga sebagai pelepasan dan pencegahan stress. Terkadang ritme kehidupan tidaklah sejalan dengan keinginan. Penuh dengan tekanan dan kompetisi. Stress sebenaranya suatu keadaan di mana seseorang tidak mampu mengatasi gangguan pernafasan yang tidak terartur. Pernafasan sangatlah berhubungan erat dengan emosi dan keadaan pikiran. Pernafasan di dalam yoga adalah sebagai penghilangan stress melalui relaksasi. Hal inilah yang sangat dibutuhkan oleh orang autis yang dalam keadaan psikologisnya mengalami shock.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar