Selasa, 20 September 2011

EMOTIONAL BRANDING VERSUS FILOSOFI SARI BUAH



EMOTIONAL BRANDING VERSUS FILOSOFI SARI BUAH


Thomas Dewey (dalam Allan&Pease, 2006:1) menyatakan bahwa kebutuhan utama yang telah melekat pada sifat manusia adalah merasa diri penting, diakui, dan dihargai. Hasil uji hipotesis yang dilakukan oleh Rezeki (2006:iii) menunjukan bahwa terdapat hubungan positif (58,1%) antara kebutuhan harga diri dengan kecenderungan perilaku konsumtif terhadap telepon genggam pada mahasiswa. Penelitian lain menunjukkan bahwa  konsep diri sebanyak 12, 2% turut mempengaruhi perilaku konsumtif remaja putri dalam pembelian produk kosmetik juga menunjukan  (Parma, 2007:iii). Salah satu afiliasi sifat dasar manusia menurut penulis adalah perilaku konsumtif. Oleh karena itu menurut hemat penulis walaupun kebutuhan utama yang disebutkan Dewey melekat pada sifat manusia, namun terdapat berbagai cara dan strategi yang mampu diciptakan untuk mengurangi afiliasi sifat dasar tersebut.
Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa usia remaja (15-18 tahun) ibu kota memiliki gaya hidup “shopping mall” sebesar 52,5%. Lebih lanjut lagi di jabarkan bahwa sebanyak 40% perempuan  membelanjakan uangnya di mall lebih dari satu juta rupiah dengan frekuensi waktu lebih dari lima jam sebanyak 20%. Tiga teratas kegiatan yang para shoppers lakukan yaitu nonton bioskop (40%), makan (40%), dan shopping (65%). Ini menunjukan bahwa remaja ibu kota biasa memanjakan diri di mall. Dugaan ini diperkuat dengan temuan hasil penelitian tentang gaya hidup keluarga di ibu kota yang membiasakan diri berbelanja di mall (87,5%); kegiatan waktu luang bersama keluarga dihabiskan untuk pergi ke mall (34%); dan jenis pengeluaran terbesar keluarga adalah rekreasi/hiburan (40%) (Wagner, 2009:59-64). Dari fakta yang dikemukan oleh peneliti diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa remaja ibu kota yang terbiasa dimanjakan dengan kehadiran mall memiliki tingkat konsumtif yang tinggi.
Permintaan individual konsumen terhadap suatu barang tidak terlepas dari perilaku konsumen dalam mengkonsumsi barang tersebut ( Sudirman&Algifari, 2009:1). Oleh karena itu Rusandi (2004) menyebut perilaku konsumtif sebagai suatu perilaku memebeli yang tidak didasarkan pada pertimbangan rasional, melainkan karena adanya keinginan yang sudah mencapai taraf yang tidak rasional lagi.
Sangat menarik, dalam sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa siklus haid yang dialami perempuan bisa memperngaruhi mood seseorang perempuan untuk berbelanja lebih agresif alias boros. Dua pertiga dari 443 perempuan berusia 18-50 tahun dilaporkan tidak mampu mengontrol emosi yang kerap muncul saat haid, seperti rasa marah, depresi ataupun stress. Sehingga kaum hawa tersebut memutuskan untuk pergi membelanjakan uang semakin besar untuk menceriakan suasana hatinya dan mengontrol emosinya (Karen, dalam Haluan: 14 Mei 2011).
Pasar konsumen kebutuhan kini diubah menjadi keinginan. Kebutuhan untuk berpakaian berubah menjadi keinginan untuk memiliki Logo, Gucci, Prada, Elisabeth atau Hermes. Pada kasus ini pengusaha harus pintar memposisikan brand mereka menjadi hal yang menarik secara emosional bagi konsumen dari kebutuhan menjadi keinginan. Ketika konsumen merasa sebagian dari hidupnya di lengkapi dan merasa terbantu oleh brand, maka saat itu muncullah emotional branding yang kuat antara brand dan konsumennya.
Emotional branding yang terlalu kuat pada diri seseorang tanpa pemahaman lebih pada ujungnya akan menjadi bomerang tersendiri bagi manusia. Hal itu menurut hemat penulis, keajegan suatu brand tidaklah bersifat mutlak melainkan pasang surut. Surutnya perusahaan tidak akan dimunculkan kepada konsumen setianya, padahal perusahaan sedang tidak memproduksi barang karena krisis, namun barang yang beredar dipasaran tetap ada dan dengan harga yang sangat murah. Anda akan merasakan ada yang berbeda dengan brand langganan, saat itulah anda menyadari kalau jaket branded anda hanyalah terbuat dari kulit sintetis.
Brand dan sari buah adalah dua hal yang sama dalam mempertahankan kualitas. Emotional branding selalu bersahabat dengan uang, memacu manusia untuk mengumpulkan sebanyak-banyaknya uang kemudian untuk membeli barang branded demi prestise. Hal ini bertolak belakan dengan sari buah. Artinya, kalau anda memiliki apel buatlah sari apel, janganlah membuat sari apel dengan rasa jeruk. Karena jeruk dan apel tidak akan pernah terjadi apel rasa jeruk atau jeruk rasa apel. Yang ada sari apel beraroma jeruk, atau sari jeruk beraroma apel.
Perusahaan branding yang anda kira memanjakan anda, sebenarnya sama sekali tidak sepenuhnya mencintai setumpuk kepentingan anda, melainkan membagi cintanya untuk kepentingan gaji karyawan dengan mensubtitusi melalui rekayasa ilmu pengetahuan modern. Oleh karena itu, semakin lama sari anggur diperam, maka harganya semakin melangit. Investasi sari buah lebih menguntungkan, jika dibandingkan invetasi barang-barang branded demi prestise.
RUMUSAN MASALAH
  1. Bagaimana menciptakan emotional branding dengan konsumen wanita?
  2. Bagaimana filosofis sari buah memberikan upaya motivasi menabung guna mengurangi tingkat konsumtif berlebih wanita indoneasia?
TUJUAN PENULISAN
  1. Menjelaskan proses terciptanyaemotional branding dengan konsumen wanita.
  2. Menjelaskan filosofis sari buah sebagai salah satu upaya motivasi menabung guna mengurangi tingkat konsumtif berlebih wanita indoneasia.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.                Sifat Dasar Utama Manusia
Allan&Pease (2006:1) menggolongkan sifat dasar utama manusia menjadi tiga kelompok yaitu; pertama, manusia itu merasa dirinya dipentingkan. Merasa diri penting merupakan kebutuhan manusia paling kuat dan menetap. Inilah satu sifat yang membedakan manusia dengan binatang. Merasa diri penting inilah yang membuat manusia ingin memakai baju bermerek, memiliki mobil mewah, meraih gelar akademis, atau memiliki kebanggaan atas keberhasilan anak-anak mereka.
Dewey mengemukakan bahwa selain merasa diri penting, manusia pada dasarnya juga melekat sifat diakui dan dihargai (Allan&Pease, 2006:2). Keinginan untuk diakui dan dihargai inilah yang membuat seorang remaja senang bergabung dengan geng atau perkumpulan pemuda. Bahkan karena ingin dikenal, sebagian dari remaja ini bahkan rela bergabung dengan geng perampok yang keji.
Kedua, manusia lebih tertarik dengan dirinya sendiri. Orang lain lebih tertarik kepada diri mereka sendiri dibandingkan dengan diri anda. Orang hanya tertarik pada apa saja yang dapat membeikan keuntungan bagi mereka. Sifat mementingkan diri sendiri ini merupakan naluri bertahan hidup yang sudah terekam dalam otak kita, serta merupakan sifat bawaan manusia sejak manusia diciptakan.
Ketiga, hukum alam tentang imbalan yang seimbang. Memberikan sesuatu yang nilainya sama seperti yang kita terima dari orang lain merupakan desakan yang dengan sendirinya muncul dari alam bawah sadar manusia. Berdasarkan teori diatas, penulis menarik kesimpulan bahwa sifat dasar manusia adalah sebuah landasan berpikir pertama yang digunakan para perusahaan untuk menciptakanemotional branding dengan konsumennya. Artinya,emotional branding pada dasarnya sangat mengerti bahwa kebutuhan utama manusia adalah dianggap penting dan dihargai, sehingga semakin sebuah perusahaan branding membuat konsumennya merasa penting, maka semakin positf pula respon mereka terhadap branding perusahaan.

B.                 Periode Emas Remaja
Masa remaja adalah masa transisi seseorang banyak mengalami perubahan dalam aspek kehidupan, diantaranya, psikologis, kognitif, dan psikoanalisis (Santrock, 2007:18). Seiring dengan perubahan tersebut pada usia remaja mulailah etrbentuk pola konsumsi yang kemudian berkembang menjadi perilaku konsumtif (Rosandi, 2004). Hal ini menurut penulis dikarenakan perubahan yang terjadi bersifat kausalitas dan berkelanjutan, artinya perubahan biologis mampu mendorong munculnya perilaku konsumtif, karena di masa transisi ini tuntutan masyarakat menjelma melalui berbagai medium.
Hal tersebut didukung oleh pendapat Agustina (2005) yang menyatakan bahwa gaya hidup mempengaruhi perilaku seseorang, dan pada akhirnya menentukan pilihan-pilihan konsumsi seseorang.
C.                 Perilaku Konsumtif
Dalam kamus Bahasa Indonesia, konsumerisme dibatasi pengertiannya sebagai sebuah cara hidup yang tidak hemat. Kemudian konsumtif disebutkan sebagai sifat yang hanya mampu memakai, menggunakan, tanpa mampu menciptakan.
Konsumtif, kata ini digunakan untuk menunjuk pada perilaku konsumen yang memanfaatkan nilai uang lebih besar dari nilai produksinya untuk barang dan jasa yang bukan menjadi kebutuhan pokok (Fransiska : 2003).
Konsumtif adalah suatu gaya hidup atau pola hidup yang dikendalikan oleh keinginan membeli barang-barang yang tidak atau kurang dibutuhkan, selalu merasa tidak puas, bergaya hidup boros dan berlebihan dalam membeli sesuatu untuk memenuhi hasrat kesenangan duniawi semata (Yuanita, 2003).
Lebih jelasnya Perilaku konsumtif disebut Mummery and Hobson's Under-Consumption Theory dengan istilah consumption yang artinya tidak menabung atau berinvestasi (not saving or investment). Perilaku konsumtif yang akhir-akhir ini popular adalah menggunakan pakaian bermerk dan juga menggunakan selularphone dengan model terbaru (Yuniawati, 2003).
Menurut Rosandi (2004), faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumtif adalah sebagai berikut:
(a). Demografi adalah data yang menggambarkan suatu populasi dalam hal ukurannya (jumlah individu dalam suatu populasi), distribusinya (berdasarkan lokasi geografis dan lokasi tinggal di perkotaan, pedesaan, atau pinggiran kota), serta strukturnya (umur, pendapatan, pendidikan). Faktor demografi mempengaruhi gaya hidup seseorang, dalam caranya memanfaatkan waktu, barang atau jasa yang dibutuhkannya maupun barang atau jasa yang dipilih untuk dikonsumsinya. (b). Perilaku konsumtif juga dipengaruhi faktor situasional seperti kondisi keuangan, waktu dan juga tempat pembelian dapat mempengaruhi perilaku membeli seseorang. Seseorang yang memiliki keuangan yang lebih cenderung akan lebih konsumtif, demikian juga dengan seseorang yang memiliki lebih banyak waktu luang akan membeli lebih banyak dibandingkan yang tidak. (c). Keluarga mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan sikap dan perilaku anggotanya, termasuk dalam pembentukan keyakinan dan berfungsi langsung dalam menetapkan keputusan konsumen. (d). Iklan mempunyai pengaruh yang besar dalam menimbulkan perilaku konsumtif. Hal ini karena media massa sudah berkembang menjadi bagian dari kehidupan manusia dan tidak hanya berperan sebagai penyebar informasi dari peristiwa yang terjadi, tetapi juga berperan sebagai media hiburan, pendidikan, sosialisasi, dan propaganda (Aprianti, 2005).
Menurut Rosandi (2004), iklim tersebut dapat menimbulkan fenomena psikologi baru yang dikenal dengan fenomena homo consumens, yakni nafsu lapar dan haus yang tidak pernah terpuaskan oleh produk-produk konsumsi yang ada, karena tak henti-hentinya dipupuk, dirangsang, dan dihembus-hembus oleh iklan baru.
D.                Emotional Branding
Brand adalah komoditas atau jasa yang dikemas dalam sebuah persona emosional, dipatenkan dengan sebuah image atau logo. Persona emosional adalah sebuah pengalaman sensoris yang diciptakan lewat desain konseptual dari sebuah brand. Branding, merujuk pada kumpulan hal-hal yang dipercayai dan dipegang pembeli mengenai perusahaan beserta  produk/jasanya, baik positif maupun negatif. Definisi ini bergeser menjadi lebih dari sekedar nama, logo, atau identitas grafik (Rachman, Femina:2011).
Christodoulides dkk (2006) mendefinisikan hubungan emosional dalam konteks yang berhubungan dengan suatu brand adalah affinitas antara konsumen dan sebuah brand yang dibuat lewat afiliasi (hubungan), perhatian, dan empati. Hubungan emosional yang dibagikan dengan konsumen, yang termasuk sebagai salah satu dimensi pengukuran dari komunitas Psikologi, dideskripsikan sebagai hubungan antara anggota (Obst & White 2004).
Emotional branding terbentuk dari unsur self-concept, self-congruent by iklan, dan Loyalitas brand. Indikator lain yang dipakai Kamp and MacInnis (1995) sebagai kriteria pada hubungan emosional dengan brand adalah relevansi brand, kesesuaian self-brand image, dan perasaan positif yang kuat.
Self-concept yang dipakai/dimaksudkan dalam proses ini mungkin saja adalah self-image seseorang yang sebenarnya (trait yang dipercayai dimiliki seseorang), ideal self-image (trait yang ingin dimiliki seseorang), social self-image (trait yang diberikan oleh orang lain pada dirinya)  (Johar & Sirgy 1991). Tergantung pada tipe kesesuaian image yang dibutuhkan/diinginkan, konsumen mungkin mencari keuntungan brand yang memenuhi kebutuhan social consistency (actual self-image), kebutuhan self-esteem  (ideal self-image), atau kebutuhan pengakuan sosial (ideal social self-image).
Dari deskripsi ini, dapat disimpulkan bahwa konsumen mungkin lebih tertarik untuk menghubungkan antara motif mereka terhadap penggunaan brand dan kemampuan brand untuk memenuhi motif-motif tersebut daripada hubungan paralel antara image atau kepribadian dari brand dengan dirinya.  Fournier (1998) mendukung kesimpulan ini, dalam studinya mengenai hubungan konsumen-brand. Bahwa hubungan tersebut adalah hubungan yang lebih kepada persoalan pengenalan kesesuaian pemenuhan tujuan daripada kesamaan antara aspek produk dengan image kepribadiannya.
Chang (2005) mengemukakan teori bahwa pesan iklan yang berisi self-congruent mempercepat individu untuk segera melakukan self-referencing, membayangkan diri mereka sendiri pada situasi yang diilustrasikan dalam iklan, dan hadirnya iklan itu juga menimbulkan respon emosional positif yang kuat. Sebagai hasil dari perasaan positif dan proses self-referencing oleh iklan tersebut, para pemirsa punya sikap lebih menyukai iklan dan brand tersebut. Self-referencing ini akan memperlancar pemaknaan brand yang disebabkan oleh keuntungan emosional yang dihubungkan dengan diri sendiri, faktor krusial pada pembentukan self-brand connection (Escalas & Bettman 2005, 2003).
Implikasinya adalah peran iklan dalam menciptakan sebuah hubungan emosional dengan brand adalah untuk  mengisi brand dengan makna (melalui komunikasi tentang keuntungan emosional) di mana konsumen dapat bergabung untuk berhubungan bersama brand dengan self-comcept mereka.
Hubungan emosional dimulai dengan iklan yang bertujuan untuk mengkomunikasikan keuntungan emosional dalam bentuk pendek. Ketika individu menemui pesan keuntungan emosional, mereka dapat menilai kesesuaian pesan tersebut. Secara lebih spesifik, konsumen akan memutuskan apakah keuntungan emosional yang dikomunikasikan cocok dengan kebutuhan atau tidak (self-consistency, self-esteem, social consistency, atau social approval) (Johar & Sirgy 1991).
Loyalitas brand didefinisikan sebagai tingkat dimana konsumen mempertahankan sikap positif terhadap brand, memiliki komitmen terhadapnya, dan berkeinginan untuk meneruskan pembelian selanjutnya. Implikasinya adalah peran iklan dalam menciptakan sebuah hubungan emosional dengan brand adalah untuk  mengisi brand dengan makna (melalui komunikasi tentang keuntungan emosional) di mana konsumen dapat bergabung untuk berhubungan bersama brand dengan self-concept mereka.
E.                 Succesfull Saving
Perilaku konsumtif diistilahkan oleh Mummery and Hobson's Under-Consumption Theory adalah dengan istilah consumption yang artinya tidak menabung atau berinvestasi (not saving or investment). Seseorang yang memiliki perilaku konsumtif pada umumnya tidak mampu menabung (saving). Secara teori menabung adalah salah satu kegiatan positif yang harus dilakukan oleh negara modern.
Hal ini didukung dengan pendapat Carroll (2006:1)
“Consumption and saving decisions are at the heart of both short- and long-run macroeconomic analysis (as well as much of microeconomics). In the short run, spending dynamics are of central importance for business cycle analysis and the management of monetary policy. And in the long run, aggregate saving determines the size of the aggregate capital stock, with consequences for wages, interest rates, and the standard of living.” (konsumsi dan menabung merupakan keputusan individu dari dua analisis economi jangka panjang dan pendek (sama banyaknya dari microecnomi). Dalam jangka pendek, konsumsi dan investasi digunakan untuk menyadari dinamika dari siklus analisis bisnis dan manajemen kebijakan moneter. Dan untuk jangka panjang, pentingnya investasi bagi negara adalah sebagai ketersediaanya modal, dengan konsekuensi untuk wages, kepentiingan suku bunga, dan harga standart sembako).
Untuk negara yang sedang berkembang, kebijakan pemerintah untuk menggalakkan budaya menabung (investasi) seharusnya disosialisasikan menjadi komitmen nomor satu. Di lain pihak gempuran globalisasi membuat batas-batas territorial tidak memnjadi sebuah masalah untuk bertukar informasi. Ditambah dengan diratifikasi segala perjanjian yang menyatakan bahwa Indonesia siap dengan pasar bebas. Maka produk domestic akan bersaing dengan produk luar negeri. Dan semoga hasil penjualan tersebut di sirkulasi kembali di Indonesia sebagai investasi, namun celaka jika negara kita hanya digunakan tempat penjualan barang dagangan tanpa investasi.
Hal serupa juga diperoleh dari hasil penilitian Neil (Carroll, 2006:2) yang mana disebutkan bahwa hubungan antara investasi dan pertumbuhan telah dipercaya bergantung pada carapandang pendapatan masa depan. Oleh karena itu menbung hemat penulis adalah suatu keharusan yang didukung penuh oleh semua steakholder guna penerapan dan manfaatnya efektif.

BAB III
PEMBAHASAN
Menabung bukanlah sebuah budaya yang diprogramkan oleh pemerintah sebagai upaya komitmen bersama. Hal ini karena negara tidak pernah mempercayai kemampuan rakyatnya. Pemerintah hanya percaya kepada pihak asing, yang terpenting mereka memiliki investasi besar di Indonesia, namun tidak pernah memperhitungkan kerugian yang akan ditimbulkan.
Menabung dan olahraga itu kegiatan sadar manusia dengan tujuan positif. Kedua hal tersebut akan sangat merepotkan jika dilakukan oleh orang yang tidak pernah melakukannya. Kedua hal tersebut akan sangat dibutuhkan ketika seseorang telah mengalami kerugian. Misalnya, seseorang yang dahulunya tidak pernah olahraga, sehingga suatu hari dokter memvonis menderita penyakit jantung. Maka penderita ini akhirnya mulai menata pola makan dan mengatur pola olahraga. Bagi orang yang tidak pernah olahraga, tentu pada hari-hari pertama mengalami banyak keluhan, mulai dari capek, pusing, pegal-pegal, bahkan hingga demam. Namun, jika kegitan olahraga ini dibiasakan, maka kegiatan ini akan menguntungkan di kemudian hari. Hal serupa juga yang akan terjadi dengan orang yang hendak menabung.
Sebagai negara berkembang yang tingkat konsumsinya tinggi (BPS Agustus 2011) emotional branding mulai menjadi penyakit baru yang terus mewabah. Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa salah satu faktor dukungan emotional branding adalah daya beli yang meningkat, kontruksi sosial, dan kemudahan mengakses barang yang diinginkan.
Tidak sedikit emotional branding memberikan dampak negatif terhadap konsumen dan negara. Dampak negative bagi konsumen adalah munculnya depresi yang tercipta karena tekanan sosial dari kelompok karena tidak menggunaka barang-barang bermerk. Selain itu, emotional branding menciptakan jurang sosial baru di masyarakat. Sedangkan kerugian yang dialami negara adalah banyaknya barang bajakan. Masyarakat dengan ekonomi lemah namun menginginkan gaya hidup branded pada akhirnya akan membeli bajakan. Faktanya, dimanapun kita berada sebagian besar para wanita memiliki salah satu aksesoris dengan merk Chanel mania ataupun LouiVistonholic.

Saya jadi teringat kata-kata Julius Rosenwald yang pernah memberikan nasihat kepada salah seorang sahabatnya yang bunyinya demikian “kalau anda mempunyai jeruk, buatlah air jeruk”. Filosofis dasar ini memberikan kesempatan bagi kita untuk sejenak melakukan refleksi kedalam jiwa yang sadar menjauhkan diri dari kesedihan akibat depresi emotional branding.
Orang yang bijaksana bila diberi jeruk, maka ia akan berkata “pelajaran apa yangn dapat saya perik dari kemalangan ini? Bagaimana saya bisa memperbaiki situsi ini? Bagaimana saya bisa memanfaatkan jeruk ini hingga menjadi air jeruk?”.
Adler (Carnegie, 1989:226-227) menyatakan bahwa sifat dasar manusia yangn paling istimewa adalah kemampuannya untuk mengubah minus menjadi plus. Pendapat ini didukung oleh Thompson (Carnegie, 1989:229) yang menyebutkan bahwa sebenarnya anda menemukan kebenaran yang dulu diajarkan oleh orang-orang Yunani 500 SM yakni sesuatu yang paling baik adalah yang paling sulit. 
Menabung bukanlah sesuatu inovasi ekonomi tanpa manfaat. Belajar dari wanita-wanita bromo yang perkasa, yang setiap harinya naik turun gunung mencari kayu guna dijual, lalu uangnya mereka gunakan hanya untuk tiga hal, yaitu jika salah seorang keluarga ‘babaran’ (melahirkan), nikahan, dan upacara kematian. Maka tidaklah salah jika Fosdick (Carnegie, 1989:229) mengatakan bahwa kebahagian tidaklah selalu berupa kesenangan, tapi berupa kemenangan. Kemenangan dalam arti keberhasilan mencapai cita-cita, memanfaatkan segi positif dari setiap situasi yang negative. Oleh karena itu, berusahalah menjadi wanita tanpa bergantungannya merk di seluruh tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Agustina, Inca. 2005. Gambaran Gaya Hidup Remaja yang Memiliki Keterlibatan Tinggi Terhadap Shopping Mall. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya. Jakarta.
Allan&Pease, Barbara.ed.Susanto, Danny. 2006. Easy Peasey-People Skills for Life. Jakarta: Network TwentyOne.
Ball, Jennifer G. Creating Emotional Branding Connections : Emotional Benefits, Brand Meaning, and Self-congruity. University of Texas at Austin. http://www.ciadvertising.org/SA/fall_06/adv392/havachava/index.htm. Diakses 25 Juni 2011.
Carnegie, Dale.ed.Hartaya, tim. 1989. Petunjuk Hidup tentram dan Bahagia. Jakarta: PT Gramedia.
Carroll , Christopher D. 2006. Consumption and Saving: Theory and Evidence. Diakses 25 Juni 2011.
_____. 2011. Membanngun Persona Branding. Majalah Femina: 2011.
Laporan BPS periode Agustus 2010
Prawono, Inge Yuliana. 2005. Perbedaan Perilaku Konsumtif untuk Produk Fashion Antara Remaja Putra dan Putri. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya. Jakarta.
Rohmah, Farida Nur,dkk.2007. Membangun Emotional Branding Connection dengan Konsumen. Makalah. Universitas Diponegoro.
Rosandi, Andika Filona. 2004. Perbedaan Perilaku Konsumtif Antara Mahasiswa Pria dan Wanita di Universitas Katolik Atma Jaya. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya. Jakarta.
Santrock, John W. (2003). Adolescence (9th ed). McGraw-Hill Companies, Inc. New York.
Siklus Haid Bikin Perempuan Boros. Haluan: 14 Mei 2011. Diakses 25 Juni 2011.
Sudarman,Ari&Algifari.2009. Ekonomi Mikro-Makro. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta.
Yuanita, Lisa. 2003. Gambaran Terjadinya Perilaku Konsumtif dalam Membeli Telepon Selular. Skripsi. Fakultas Psikologi Universitas Atma Jaya. Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar